Tanda-Tanda Lailatul qadar







       Tidak jarang tanda-tanda Lailatul Qadar sering dikait-kaitkan dengan tanda-tanda alamiah. Yang jelasnya bagi yang menemukan Lailatul Qadar adanya kedamayan dan ketenangan serta ketika itu turun juga malikat-malaikat. Betapa berartinya dan maknanya Lailatul Qadar nabi SAW menganjurkan untuk menemuinya.

baca juga : keutamaan malan Lailatul Qadar
                
    Masalah Lailatul Qadar tersebut banyak yang bertanya-tanya serta menerka kapan datangnya Lailatul Qadar namun tidak dapat di tentukan tanggal pastinya, sehingga membutuhkan data dan informasi tentang tanda-tanda jatuhnya malam Lailatul Qadar. Dalam sejarah, salah seorang sahabat Rasulullah SAW Ubay bin Ka’ab telah bersumpah ia pernah menyaksikan  Lailatul Qadar itu sehingga mampu menjelaskan tanda-tandanya, sebagimana dalam pernyataan :

1. pada pagi hari matahari bersinar menyilaukan

قَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ - يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى - وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Ubay (bin Ka'ab) berkata, "Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia. Sesungguhnya ia terjadi di bulan Ramadhan. Dan demi Allah sesungguhnya aku mengetahui malam itu. Ia adalah malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk qiyamullail, yaitu malam kedua puluh tujuh. Dan sebagai tandanya adalah pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih yang tidak bersinar-sinar menyilaukan."(HR. Muslim)

Tanda ini hanya dapat diketahui setalah Lailatul Qadar terjadi,  jadi bukan tanda akan jatuhnya malam lailatul qadar. Sedangkan tanda-tanda ketika sedang terjadinya Lailatul Qadar menurut sebuah keterangan adalah malam terasa begitu hening, cuaca cerah, langit bersih tidak ada angin dan bebas dari mendung[i]


2. Udara dan suasana pagi yang tenang

Nabi SAW bersabda “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. 

(HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh)

Ada yang mengatakan untuk memastika kebenarannya bahwa pada malam itu telah datang Lailatul Qadar bila dilihat alam sekitarnya terlihat nyaman dan langitpun tidak secuilpun dihinggapi awan bersih dan cerah[i]



3. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan.

            Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” 
(HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)






[i] Nogarsyah Moeda, Hikmah Puasa Bagi Umat Islam, Marjan Bandung. Hal 149. 1990


[i]Arwanie Faishal, Ramadhan puasa LAILATUL QADAR I’TIKAF. Fikahati Anesha Jakarta. Hal 166-167, 1995

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel