Tampak Tak Adil, Mungkin Bermanfaat






"Terbentur, terbentur, terbentur kemudian TERBENTUK"

Ada banyak sekali pandangan mengenai jalannya kehidupan, namun dari tafsir-tafsir dan pandangan tersebut paling tepat untuk menggambarkan kehidupan sebagai sebuah sistem yang satu kesatuan dan saling berkaitan, dan dimana manusia sebagai pemikir adalah penggarak dari system tersebut. Namun terlalu adil jika menggambarkan peran manusia begitu mudah dan lancarnyanya sebagai seorang pemikir dan penggerak yang membawa perubahan, tentu saja kita harus menggambarkan sebuah kehidupan yang cukup sulit dan tidak adil bagi mereka sang pemikir dan pembawa perubahan itulah realitas dari pandangan orang lain mengenai kehidupan dan jalan yang mereka lalui. 

“Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan" – (QS.94:5-6)

            Kesulit, disisihkan, dikucilkan, dijatuhkan, dipenjara masih banyak  lainnya yang dirasakan oleh mereka para  pemikir dan pembawa perubahan. Bukan berarti mendramatisir atau memperkelut gambaran dari perjalan mereka, namun begitulah adanya seperti yang sering digambarkan dalam banyak seri film super Hero. Dimana kehidupan mereka dikisahkan diawali dari sebuah ketidak adilan seperti terlahir Miskin, Terlantar, Tampa orang tua dan banyak lagi jenis-jenis ketidak adilan yang mereka rasakan diawal, tidak hanya disitu saat masa remaja mereka kembali di Kucilkan dari orang-orang sekitar, dianggap sebagai orang yang aneh, hampir selalu seperti itu yang Digambar Hingga akhirnya mereka melakukan/berbuat/menjadi sesuatu yang akhirnya berguna bagi orang banyak dan diakui dan diharga dikehidupannya itulah gambaran secara umum jalan kehidupan para Super Hero di banyak film.
            Namun secara kebetulan atau bahkan diambil dari kisah nyata, seperti itulah orang-orang besar lahir dan Menghasilkan karya yang akhirnya di akui oleh dunia. Karna bukan tidak mungkin hal tersebut akan membentuk sebuah dasar yang kokoh, hal tersebut sejalan dengan apa yang diajakarkan alam kepada kita sebagaimana yang diperlihatkan Petani Kurma di arab, dimana kurma ditanamam dilama pasir kemudian ditutup dengan Batu dengan demikian  batu akan menahan pertumbuhan kurna ke atas setiap harinya, sebab pertumbuhan ke atas terhalang oleh batu maka pertumbuhan akar kurma yang ada didalam tanah akan maksimal setelah itu barulah kurma tersebut tumbuh ke atas menembus dan menggeser batu penghalangnya. seperti yang dikatakan William james “penderitaan telah membantu kita untuk mencapai suatu batas yang tidak pernah terbayangkan. Andaikan Dostoyevsy dan Leo Tolstoy tidak megalam kehidupan yang pahit , keduanya tidak akan pernah suskses menulis Memoar dan Novel-novel yang mengagumkan  dan abadi hingga kini”. Maka makin yakinlah kita jika kehidupan yang tidak adil bagi para pemikir dan pembawa perubahan bertujuan untuk membentuk sebuah dasar beitu penting untuk melanjutkan sebuah perubahan dan meghasilkan buah manis yang kelak akan dipetik, karna bagaiman mungkin tampa sebuah dasar yang kokoh layer perjuangan dapat diibarkan dan megarungi Samudra yang luas.
Dikalangan tasawuf tidak sedikit orang yang mengenal kitab Jamiul Fi Ahadis Rasul yang Secara etimologinya, kata al-Jami’ artinya “yang menghimpun” sehingga dapat dipahami bahwa kitab al- Jami’ adalah kitab yang menghimpun banyak hal. Kitab tersebut dikarang oleh Ibnu Atsir, selan isi dari kitab tersebut yaitu proses penyususnan karya tersebut yaitu dalam keadaan Ibnu Atsir tidak bias berjalan,hal tersebut disebabkan sebuah penyakit yang diderita beliau sehingga  melumpuhkan fungsi geraknya kedua kaki dan tangannya. Sehingga hal tersebut mengakibatkan beliau sering berada di rumah dan untuk melakukan aktifitas yang dibutuhkan gerak belau  harus ditandu. Kendatipun mengalami hidup dalam keterbatasan secara fisik, hal itu tidak mengahalangi beliau untuk mewariskan ilmi-ilmiu bagi umat. Bahkan ternyata, kitab-kitab karangan beliau, kebanyakan tersusun saat beliau tak berdaya menghadapi penyakit yang dideritanya. Ada sejumlah murid yang membantu beliau menuliskannya.
Selain Ibnu Atsir masih banyak tokoh-tokoh yang mengalami kesengsaraa justru lebih mekar dan merekah dibandingkan orang-orang disekitarnya seperti As-Sarakhsi  yang menulis bukunya yang Al-Mabsuth yang berjumlah 15 jilid ditulis saat belau dalam penjara bawah tanah, lalu fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah ditulisnya saat dalam penjara.
Dengan demikian, keyatiman, kebutaan, pengasingan, kemiskinan adalah salah satu sebab tumbuhnya Kreatifitas, produktivitas, Kontribusu, dan Totalitas.






sumber: La Tahzan, Dr. Aidh al-Qarni, hal 156.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel