Pendakwah : Tertinggal Kelas Oleh Zaman



Sejak awal islam muncul 1440 tahun silam, islam tidak pernah terpisahkan atau terbagi-bagi sehingga membutuhkan penyempurnaan-penyempurnaan oleh para pemeluknya. Sehingga islam begitu relevan dari awal kehadirannya sebagai solusi dari penyelsaian persoalan dimana islam itu dibawa. Beranjak dari hal tersebut didukung pula konsep pemikiran yang lebih tersusun dan realistik jika dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan yang ada, bila dibandingkan dengan pemikiran barat dimana dimulai dengan pengkategorian permsalaha sesuai soalan yang ada (Bagaimana, mengapa, apa) dan kemudian  melahirkan Ontologi, epistimologi dan aksiologi dalam filsafat. Tak berbeda jauh dengan konsep tersebut namun islam menyusunnya lebih mendalam guna memiliki pijakan atau dasar yang kokoh yakni Paradikma atau sebagai landasan Dogmatik. Maka depatlah dijelaskan konsep tersebut llmu pengetahuan memiliki landasan Metodologi, sehingga filsafat berlandaskan Paradigma.  Sehingga ulama atau para penyempai dakwah sejatinya tidaklah bertindak sebagai Indoktrinisasi atau sebagai santi aji, melainkan murni sebagai penyampai kebenaran yang realistik.

Mengulik sebuah karya fenomenal milik Pramodya ananta Toer yang berjudul  Nyanyi sunyi seorang bisu, bahwa saat  ini para pengajar atau pendakwa agama menyampaikan islam dengan cara yang cukup kolot dimana tetap pada kutup Surga yang diiming-imingkan dan negara sebagai alat untuk menakut-nakuti, sehingga tak salah bila banyak dari mereka dijuluki pengobral kunci Surga. Naskah itu ditulisnya pada tahun 1976 sebagai sebuah surat. Senada dengan hal tersebut para pendakwah lebih sering mengajarkan dan memperlihatkan ketidak mampuan manusia, kelemahan manusia atau bahkan kehinaannya sehingga gagal menciptakan sebuah sintesis jika menggambarkan kebesaran tuhan dengan kekecilan manusia, dengan demikian manusia digiring menjadi seekor katak untuk kemudian ditutup dengan tempurung.

Sehingga penyampaian macam ini dapat dinilai sebuah lompan kebelakang atau bahwah sebuah kemunduran dari kapasitas sang penyampainya, barangkali tak perlu persoalkan latar belakang jika kita ingin mencontoh atau mengambil gagasan pihak lain guna menyusul ketertinggalan para penyampai bila disandingkan dengan zaman pada saat ini. Menilik pendapat seorang Eksistensi Soren Kierkigaard, ia membagi tiga tahapan kehidupan yaitu Estetika, Etika dan Religius dengan mengenal tahapan tersbut tentu penyempaian dakwah dapat disesuai bahkan benar-benar menyatu dengan struktur zaman yang ada, tak melulu mendoktrinkan Surga neraka yang membuat para pendengarnya sendiri jengah.Tahap Estetika dimana manusia mempergunakan semua kesempatannya untuk menikmati atau memuaskan sehingga benar-benar menjadi budak nafsu. Kemudian manusia dapat saja melakukan sebuah lompatan ketahap berikutnya Etika dicerminkan dengan kemantapan dan kesungguhan bertindak dengam memperthatikan tatanan moral, sehingga tahap akhir adalah Religius dimana manusia telah berada dalam dekapan tuhan.

Berkaca pada sejarah bahwa islam tidak akan berjawa dan diterima bila penyampaian seperti saat ini, lain dari itu penguatan-penguatan yang diberkan pun langsung pada kondisi truktural masyaratan bukan hanya dengan mengiming-imingi namun menganggat kondisi masyaratat dari kubang realita saat itu. Sebagaimana HOS. Tjokroaminoto dengan asas islam dan sosialismen menyusun dan mengimplementasikan gagasan-gagasannya seperti staat-socialisme dan industri socialisme yang salah satunya mengajak dan menentang tekanan yang ada, selain dari menghindari pemghisapan nilai lebih dari hasil kerja rakyat melalui laba, bunga dan sewa pada masa itu.

Dengan demikian setidak-tidaknya para penyampai ajaran islam memiliki kemampuan analisis untuk memecahklan dan menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian, yang kemudian dilanjut dengan kemampuan Sintesis untuk kembali menyusun bagian-bagian tersebut menjadi sebuah gagasan untuk disampaikan kepda objek dakwah, dapat disebut sebagai proses alkemi dari analisis menuju sintesis..

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel