Politik Rangkul ala PKI





Politik Rangkul ala PKI

Dalam setiap gerak politik, saling rangkul, sindir atau bahkan bertentangan adalah hal biasa, yang tentu dalam setiap geraknya ada sebuah ukuran yang telah diperhitugkan setiap  individu dalam menjalani lakonnya di panggung politik.

    Politik Rangkul sendiri bukan merupakan istilah baru dan praktinya pun sudah terlalu sering terlihat oleh penikmat politik dan dipraktikan oleh tokoh-tokoh politik yang berkepentingan. Istilah politik Rangkul pernah dipakai oleh tokoh perjuangan Indonesia yaitu Kasman Singodimedjo, Tokoh kelahiran 25 Februari 1904 ini menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan keadaan politik saat itu pada tahun 1950an khususnya siasat yang digunakan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menghadapi lawan yang kuat, yang ternyata  pernyataannya tersebut benar dimana saat itu PKI tengah mengumpulkan  dukungan atau kekuatan khususnya Partai Nadhalatul Ulama (NU)  untuk menghadapi lawan politiknya yaitu  Partai Masyumi yang saat itu cukup frontal dalam menghalau dan menentang gerakan maupun faham komunisme di Indonesia, bukan berarti NU sendiri tidak menantang Komunisme namun mereka menggunakan jalan yang berbada dari Masyumi hal ini terlihat dari pilihan politik NU yang memilih untuk ikut dalam pemeritaha Soekarno guna mengimbangi pengaruh PKI terhadap soekarno, yang berbeda terbalik dengan keadaan Partai Masyumi dimana pada tanggal 13 September 1960 Prawoto dan Yunan  Nasution membubarkan partai tersebut (pembubaran tersebut didasarkan Penpres No. 7/1959 yang di arahkan terhadap Masyumi, namun pimpinan masyumi menggangap partainya tidak bertentangan dengan Penetapan atau aturan yang ada sehingga lebih memilih membubarkan alih-alih dibubarkan).
Mengumpulkan kekuatan dengan cara merangkul untuk memukul lawan yang kuat ada beragam cara yang dapat digunakan, salah satunya ialah menyamakan diri terhadap individu atau kelompok yang akan dirangkul meskipul hal tersebut dapat dikatan sebuah muslihat sebab setiap golongan atau kelompok memiliki masing-masing kepentingan, hal tersebutlah yang telah dipraktikan oleh PKI pada 1957an terkhususnya pada masa pembahasan dasar negara yang tergerak dalam Konstituante. Dimana seperti banyak kita tau pada pembahasan tersebut terdapat tiga kelompok besa dengan pandangan ideologinya tersendiri,  Fraksi Pancasila ( didukung oleh PNI, PSI, PKI,Partai Katolik dan lainnya), Fraksi Islam (didukung oleh Masyumi, NU, PSII, PERTI dan lainnya), Fraksi Sosial-Ekonomi. Perdebatan panjang tentu tidak dapat  dihindari pada pembahasan tersebut khususnya antara Masyumi dan PKI, dimana menurut mereka terdapat kejanggalan dengan adanya PKI dalam Fraksi Pancasila yang sebenarnya sebuah kontradiksi bilamana PKI menerima pancasila terkhusus sila pertama (Ketuhanan yang Maha Esa). Lenin telah memberikan pandanganya terhadap agama, menurutnya :

“Agama adalah salah satu bentuk spiritual: penindasan, yang di mana-mana sangat membebani massa rakyat, disatukan oleh kerja abadi mereka untuk orang lain, dengan keinginan dan kesepian. Jumlah kelas-kelas yang dieksploitasi dan perjuangan tanpa eksploitasi pasti akan memberikan keyakinan pada akhirat yang lebih baik. sama seperti impotensi dalam pertempurannya dengan Alam memunculkan kepercayaan pada dewa, setan, mukjizat, dan sejenisnya. Mereka yang bekerja keras dan hidup di ingin seluruh hidup mereka diajarkan oleh agama untuk tunduk dan sabar sementara di sini pada akhirnya menikmati kenyamanan dengan harapan akan dihargai di surga. Tetapi mereka yang hidup dengan kerja keras orang lain diajar oleh agama untuk mempraktekkan amal yang ada di bumi, mereka menawarkan cara yang sangat bagus untuk membenarkan adanya eksploit ras ras dan menjualnya dengan harga tiket yang wajar adalah kebahagiaan surgawi. Agama adalah opium untuk rakyat. Religian  semacam obat bius spirittbal di mana para budak dari kapital menenggelamkan manusia, tuntutan mereka untuk hidup lebih atau kurang layak bagi manusia”

Bukan hanya pendapatnya belaka, Lenin pun menyatakan bahwa Marxisme pun bertentangan dengan agama, namun sikap atau pandangan berbeda yang dikemukakan oleh kader PKI Ir. Sakirman, Njoto bahkan Aidit. Tapi harsebut hanyalah sebuah cara mereka untuk merangkul pihak-pihak lain, sebab Aidit pun pernah menyatakan pendangannya terhadap agama dalam bukunya “ Perdjuangan Dan Adjaran-Adjaran Karl Marx” :

“Dengan berdasarkan Filisofi marxis, ilmu pengetahuan Soviet Rusia memerdekakan dirinya dari Religia dan Idealisme, dua penghalang jang besar di negeri-negeri bordjuis”.

Langkah selanjutnya dalam praktik Politik Rangkul tersebut ialah memilah kawan-lawan atau dalam tahun 1957an disebut Retooling. Proses Retooling tersebut dilakukan setalah partai atau individu tersebut memiliki pijakan dan basis kekuatan yang telah dirangkul untuk menjatuhkan lawan-lawan kuat tersebut, namun tentu saja kawan yang telah mereka rangkul tersebutpun akan sama nasibnya dengan yang mereka lawan sebelumnya, hal tersebut tak dapat dipungkiri bahwa setiap kelompok atau individu memiliki tujuan atau kepentingan tersendiri selain itu menjalankan pemerintah melakukan koombinas akan lebih sulit untuk dikoordinasi beda hal bila yang mejalankan fungsi tersebut berasal dari setu kelompok yang sama, akan lebih mudah menjalankannya. Dengan ada Proses Retooling akan menciptakan pihak ketiga disamping kawan-lawan kelompok tersebut ialah opportunis yang lebih akrab disebut follow travel dimana dalam praktiknya mereka memanfaatkan kondisi Retooling untuk dapat diterima oleh kedua kelompok tersebut.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel