Untuk Apa Belajar Ini?Itu?, Tidak Ada Gunanya.




Suatu hari bertanyalah seorang murid kepada Plato apakah kegunaan dari pelajaran Matematika yang telah diberikannya selama ini. Filsuf besar ini merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan ini dan langsung memecat dan mengeluarkan murid tersebut dari sekolah. Pada wakti itu pengatahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu memang tidak memiliki keguaan praktis melainkan estetis. Artinya sama dengan kita mempelajari main piano atau membaca sajak cinta, maka pengetahuan semacam ini lebih ditujukan kepada kepuasan jiwa, dan bukan sebagai konsep untuk memecahkan masalah. Bahkan sekarangpun gejala ini masih terlihat dimana seorang mempelajari berbagai pengetahuan ilmiah bukanlah sebagai teori yang mempunyai kegunaan praktis melainkan sebagai upaya untuk memperkaya jiwa. Sambil minum teh dan panganan lainnya mereka berdebat masalah nuklir sampai pedagang kaki llima, sekedar untuk mengasah ketajaman berfikir mereka dan mendapatkan kepuasan. Seperti seorang olahragawan dalam seni raga orhiba, mereka merem melek kepuasan setelah kepenatan latihan. Ilmu sekedar pengetahuan yang harus bisa dihafal, agar bisa dikemukaan waktu berdebat: makin hafal lantas makin hebat!pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang-bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul kita bisa ikut nyambung, makin banyak maka makin yahud. Kemampuan mengutip- teori-teori ilmah yang bersifat estetik ini lalu berkembang menjadi status sosial, seperti segelitir masyarakat golongan menengah sekarang ini yang memaksa anaknya belajar main organ, padahal anak ingusan itu masih lebih senang berkubang lumpur, ketimbang memijiti tuts.
            Penempatan ilmu dalam fungsi estetika pada zaman yunani kuno itu disebabkan filsafat mereka yang memandang rendah pekerjaan yang bersifat praktis waktu itu dikerjakan oleh budak belian. Adalah kurang pada tempatnya kalau yang merdeka memikirkan masalah yang tidak sesuai status sosial mereka. Bukankan pekerjaan praktis yang memeras tenaga adalah predikat kaum budak? Sebenarnya pendapat semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh, sebab sekrang pun masih ada yang berpendapat  seperti itu : jangan mau jadi masinis atau pekerjaan teknis, anaku, jadilah pegawai negeri. Asyik!

            Persepsi yang salah inilah yang sebenarnya menyebabkan berkembangnya kebudayaan menghafal dalam sistem pendidikan kita. Ilmu tidak berfungsi sebagai pengetahuan yang diterapkan dalam memecahkan masalah kita sehari-hari, melainkan sekedar dikenal dan dikonsumsi seperti lagu Ebit atau sajak Sutardji. Jadi sekrang ini bukan hal yang mustahil bila dalam lomba deklamasi, seorang peserta setelah mengganguk kepada  juru memekik : “H-U-K-U-M B-O-Y-L-E!!! (dengan intonasi selangit).

            Buku  teks ilmuan tak jauh berbeda dari buku primbon dukun ramal yang dipergunakan untuk konsultasi dalam memecahkan masalah-masalah praktis. Palingpun berbeda adalah lingkupnya: Mbah, bagaimana ramalan kehidupan cucunda setelah pemilihan umum? Atau Prof, bagaimana ramalan situasi minyak bumi kita menjelang tahaun 2020?eh, bahkan seperti konsultasi seperti dengan dokter, kita bukan sekedar didiagnosis namun juga diberi pemecahan terapis.

            Jadi buku-buku tebal ilmuan pada hakikatnya adalah sama saja dengan buku-buku primbon tukang ramal yakni, menjelaskan, meramalkan  dan mengontrol. Tentu saja yang bebeda adalah asas dan prosedur keilmuannya, sedangkan menjelaskan-meramalkan dan mengontrol telapak tangan kita menggunakan asas dan prosedur perklenikan.





Sumber : Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Cv. Muliasari, 2003. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel