Inikah Kita Ditengah Masalah (Covid-19) yang Mengakar.






Pada tulisan kali ini aku akan sedikit memaparkan opini terkait hal yang cukup hangat untuk diperbincangkan ditengah kondisi yang ia ciptakan, severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih akrab ditelinga dengan sebutan virus Corona. Membicarakan  topik tersebut tak cukup berbeda kita tengah membincangkan harapan dan tantangan yang dihadapi, bila mana kita manatap sebelum virus tersebut mewabah hari-hari lalu ialah hal biasa tak lebih waktu yang telah dilewati dan kegiatan yang telah di alami namun saat ini menjadi sebuah harapan untuk dapat di ulangi dengan segala tantangannya. Teridentifikasi pertama kali di Cina pada 17 November 2019 virus tersebut telah menjadi Pandemi Global bukan lagi sekedar epidemi maupun wabah tercatat di Cina sendiri telah menginfeksi 82.093 dengan total kematian 3.298 kasus dan pada kasus global tercatat 512.701 kasus infeksi dan 23.495 kasus kematian (Update data BNPB, 28 Maret 2020).


             Ditulisan ini aku akan sedikit mamaparkan pandangan ku terkait Pandemi tersebut, tak akan terlalu panjang akan ku klasifikasikan mejadi dua pandan sederhana pertama terkait penyebaran pandemi ini di Indonesia dan cara menyikapi masyarakat bangsa ini terkait  corona virus. Menjadi sesuatu yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia saat ini sebab telah menginfeksi sebanyak 1.155 orang namun dapat ku katakan ketakutan tersebut adalah sebuah sikap baik yang dicerminkan melalui reaksi maupun emosi setiap individu adalah hal yang terlambat, baik setelah terkonfirmasi kasus di beberapa negara di dunia mapun konfirmasi kasus pertama di Indonesia pada 14 Februari 2020. Tercatat dari 02-08 maret 2020 tak ada pertambahan kasus hingga pada tanggal 13 Maret pandemi tersebut telah menyentuh dua digit angka, kenaikan cukup seignifikan tersebut terjadi pada tanggal 24 Maret telah menyentuh 107 kasus dengan total 686 kasus. Lambannya kapstian yang ditunggu dari pemerintah baru dituangkan pada 13 Maret 2020 dengan Keppres No.7 Tahun 2020, tak cukup disitu dengan dikeluarkannya Keppres terbut tak membuat banyak pihak puas koordinasi pemerintah pusat kepada daerah, kementrian, lembaga belum tercermin tak ayal menimbulkan asimetri informasi terkait pandemi tersebut.

Terlalu munafik bila melimpahkan seluruhnya kepada pemerintah, semunafik seorang hipokrit yang tengah berbuat baik. Bila aku berspekulasi maka salah satu akar yang mejalar dari banyaknya sebab yang ada ialah Cocoklogi masyarakt yang kian meluas dan medalam kebanyak diskursus Ilmu pengetahuan. Dimulai dari Cocoklogi pada hal-hal yang bersifat Transedental ketika tengah mejadi wabah di negara Tirai Bambu, bagai ahli spekluan mereka menyebut wabah tersebut adalah Azab bagi negara dengan sistem Komunis, hingga kemudia spekulasi mereka mental dengan yang ku sebut kesesuain Objektif , ketika wabah tersebut telah mejelma mejadi pandemi yang telah menghantui dunia kemudian mereka berdalih bahwa ini adalah “Konspirasi Dajjal” telalu jenaka untuk diterima sebuah pernyataan tanpa Teori maupun dikuatkan bukti Empiris.


Tak jauh berbeda dari mereka yang ber-cocoklogi dibalik hal-hal Trasendental, begitupun meraka yang bersembunyi dibalik jargon yang mereka sebut “Teori Konspirasi”. Menurut publikasi di jurnal Nature Medicine bahwa SARS-CoV-2 dan virus terkait tidak menemukan bukti bahwa virus itu dibuat di laboratorium atau direkayasa, hal tersebut di dukung data tentang tulang punggung SARS-CoV-2 - struktur molekul keseluruhannya. Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, mereka akan membuatnya dari tulang punggung virus yang diketahui menyebabkan penyakit. Tetapi para ilmuwan menemukan bahwa tulang punggung SARS-CoV-2 berbeda secara substansial dengan yang ada pada coronavirus yang sudah dikenal dan kebanyakan menyerupai virus terkait yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling. Cukup pada tahap ini rasana perlu para cocoklogi untuk menutup mulut dan menyusun sebuah argumen di atas teori.



Aku cukup concent akan hal Cocoklogi tersebut, salah satu akibatnya ialah banyak yang terpengaruh hingga mereka bertindak diluar nalar dan tidak mengikuti arahan para pembuat kebijakan hal ini tentu akan mempermudah penyebaran pandemi dan kian sulit untuk menghentikannya. Akhirnya aku akan sampaikan intinya yaitu ”Rendahnya minat baca, meningkatkan minat berkomentar”, yang kini kita saksikan akibat dari mereka yang berCocoklogi tanpa teori dan menyusun argumenpun tak pandai hanyalah kebingunggan yang nyata dari suatu masalah.







              Salam Hangat
Pimpinan Redaksi Harian Rakyat

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel