Prestise BEM Unila?








Didalam Konstitusi KBM Unila Pasal 14  ayat (1) dikatakan BEM U KBM Unila adalah lembaga tinggi Mahasiswa yang melaksanakan kekuasaan pemerintahan Mahasiswa ditingkat Universitas, kemudian dilanjut dalam pasal 15a ayat (4) disebutkan salah satu hak dan wewenang BEM U Mengeluarkan pernyataan yang mengatasnamakan Mahasiswa Unila sedikit dasar dari beberapa regulasi  inilah yang salah satunya memungkinkan BEM Unila melakukan kegiatan-kegiatannya sebagai lembaga Eksekutif tertinggi di lingkup universitas. Bila menenggok proses serta mengikuti regulasi secara normatif  tentulah setimen-sentimen dari pihak-pihak  di luar lingkaran BEM Unila dapat diredam, mengingat naiknya seorang presiden mahasiswa adalah luapan aspirasi serta corong suara bagi mahasiswa Unila itu sendiri, sebagaimana diterangkan dalam  pasal 15b ayat (4) Presiden Mahasiswa berkewajiban memperjuangkan aspirasi mahasiswa kepada birokrat kampus dan penyelenggara negara. Sehingga diharapkan  hak-wewenang serta tugas-kewajiban BEM Unila merepresentasikan aspirasi mahasiswa unila yang tak hanya sedekadar mencatut nama “Mahasiswa Unila”.

Besar pula kemungkinan hal tersebut hanyalah  lompatan guna menaikan prestise pihak-pihak yang berkaitan dengan BEM Unila maupun langsung merujuk kepada individu yang berada di dalamnya. Kemungkinan kedua ini menurut saya lebih memiliki dasar, alasannya merujuk kepada dua kegiatan /eskalasi besar BEM Unila yaitu mengenai Omnibus Law serta Pengembalian UKT akibat kuliah daring ini di kondisi pandemi Covid-19. Hemat saya keduanya sudah cukup mewakili guna menilai nya saat ini.

Tingkat Partisipasi
Bila scupe pengamatan  sejenak kita perluas, maka partisipasi  bermakna keikut sertaan baik dalam membangun/ menyelsaikan/ menyukseskan yang dimulai dari tahapan analisis, menentukan cara atau teknik serta keputusan persoalan ( Idajati, pamungkas & vely, 2016). Kemudian bila kita tinjau bentuk partisipasi akan kita temui beragam bentuk seperti materi, tenaga, atau keputusan partisipan

Mengamati dua eskalasi yang telah saya kemukakan tadi pertisipasi mahasiswa unila masih cukup rendah, terlalu banyak mungkin untuk dijabarkan persoalan akan hal tersebut, sehingga menurut saya pribadi cukuplah menjadi pengkajian  bagi BEM Unila tersendiri. Satu hal yang perlu secepatnya di benahi, tingkat kepercayaan  mahasiswa unila kepada BEM Unila.  Kemudia sebuah skenario yang pula patut disusun dimana  merujuk kepada kondisi bahwa unila tak butuh lagi BEM.

Terlepas dari konstitusi KBM serta regulasi yang  mendasarinya, dalam  pasal 15a ayat (4) disebutkan salah satu hak dan wewenang BEM U Mengeluarkan pernyataan yang mengatasnamakan Mahasiswa Unila menurut saya tidak ada dasar lebih kuat  selain hanya alibi “ Demi Unila-Untuk Unila”, terlalu basi. Jikalaupun ada pihak-pihak yang mendukung serta ikut berpartisipasi distribusi frekuensi  pun harus dilakukan guna mengukur siapa, darimana serta berapa bobot dari pihak  tersebut.


Hilangnya Brahmana
Tak perlu di tutupi alur mereka yang lazim disebut sebagai berproses, tarlalu mudah di tebak setiap individu yang kelak maju  menjadi calon seorang presiden mahasiswa. Hal tersebut berindikasi tak banyak orang yang memiliki potensi seperti mereka, namun juga kuat bahwa hal tersebut terlalu kontrans ditebak sebagai suatu  teka-teki. Namun disinilah spekulasi saya bermain, bila kita bungkus menggunakan sistem ajaran Hindu  mereka hanya sebatas kasta Satria sebagai “Nuhoni Sakarsa Sang Aji”- hanya melaksanakan kehendak sri baginda. Pertanyaannya siapakah konseptor serta pemikirnya? Bahwa sejak awal mereka memasuki alur tersebut tidak disiapkan untuk berfikir serta berstrategi, lantas benarkah para brahmana tersebut pihak-pihak diluar kontestasi politik kampus Unila? Pihak-pihak yang telah mendidik politik praktis dikampus ini? Dan lantas siapa yang mereka sebut dengan  nomenklatur “Internal”.

Belum lah lagi kita mendalami soalan tersebut, dan sepertinya kita harus bersama mulai selayaknya kajian metafisika dengan sebuh pertanyaan mendasar, begitupun persoalan tersebut. Kita mulai dengan sebuah pertanyaan “adakah prestise pada BEM Unila?” pertanyaan yang tentu secara hirarki  berada dibawah pertanyaan yang saya suguhkan di awal tadi “Apa sebab kemunduran prestise BEM Unila?.




Pimpinan Redaksi Harian Rakyat



Max Tollenaar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel