Refleksi Latar Belakang Semangat Modern Kartini




Pada tahun 1900an silam kartini merefleksikan pandangannya terhadap kondisi pribumi dengan sebutan “Rimba Belantara” yang gelap-gelita. Pernyataan  yang tidak serta merta hanya ungkapan melainkan sebuah harapan akan hadirnya penerangan berupa intelektual yang melekat pada kaum pribumi.  Capaian kondisi serta kematangan dalam berfikir sehingga dapat menghimpun aspirasi pribumi yang telah menyuburkan kantong para penjajah dengan keringat dan darahnya bukan sebuah proses yang singkat dan akan menimbulkan banyak kekaguman dalam mengulasnya. Namun dalam tulisan singkat dan penuh akan kekurangan  ini akan dicoba mengulas latar belakang dari capaian seorang revolusioner kaumnya.


Keadaan Lingkungan
Kondisi ekonomi, sosial serta politik dijawa pada umunya serta di Jepara khususnya bertitik awal pada kebijakan cultuurstelsel  pada 1830 yang telah disetujui kerajaan belanda saat itu. Bila kita sedikit mengkomparasi sejenak terhadap perjuangan Multatuli yang terkisah dalam Max havelaar hemat saya adalah basis daerah perjuangan kartini lebih kompleks sebab Lebak, Banten tidak termasuk cakupan  tanam paksa hal ini dikarenakan kondisi geografis/ tanahnya tidak cocok. Namun meski demikian perbedaan tersebut tidaklah menjadi sebuah keuntungan, sebagai bukti Kondisi serta situasi terganbar jelas dalam  Wijs Mij de Plaats Waar Ik Gezaaid Heb  Multatuli dalam :

“Binasa, segala mereka yang menentang...binasa , segala yang larikan diri! Terhadap kekuatan ini tiada kekuatan, terhadap kecepatan ini tiada kecepatan!...Binasa, raja kaya dan kuda dan manusia!... Binasa, tumbuhan, pohon,ladang, hutan...semua binasa, semua terserut licin, terbabat, tercukur!”

Praktek cultuurstelsel inilah sebagai awal praktik penghisapan Imprealisme yang terstruktur serta sistematis di tanah hindia belanda melalui beberapa saranya:

1.      Biaya sewa tanah dan pajak
2.      Pengambilan keuntungan berlipat
3.      Praktik bunga.

Melalui praktik inilah komoditas Nila, Kopi, Tebu tembakau serta beberapa yang lainnya tumbuh subur disirami darah, keringat serta air mata pribumi. sebagaimana diterangkan Ananta Toer, sebut saja didaerah demak yang pada mulanya berpopulasi 336.000 orang dalam waktu dua tahun merosot menjadi 120.000 atau 216.000 orang telah tewas.

Tabel 1. Jenis tanam ekspor dan Luas Tanah
Komoditas
Luas
Gula
32,722 bahu
Tembakau
22,141 bahu
Gula
268 bahu
Kayu manis
30 bahu
Kapas
5 bahu
         (Anne Booth, William J.O Malley, Anna Weidemann, 1988)

Kopi merupakan tanaman ekspor utama dipulau jawa. Nilai ekspor kopi semenjak diberlakukan tanam paksa jauh meningkat sampai 80%.

                    Tabel 2. Keuntungan Pemerintah
Tahun
Kopi
Gula
Nila
1840-1844
40.227.637
8.217.907
7.835.77
1845-1849
24.549.042
4.136.060
7.726.362
                            (Daliman, 2001)

Secara khusus keadaan di jepara tidak jauh berbeda dengan daerah lainnya di jawa. Pada awal ke 16 hingga sebelumberkuasanya VOC dan memperkenalkan cultuurstelsel adalah kota dagang yang di dukung aktivitas agraris. Namu  sejak adanya tanam paksa kondisi tersebut berubah hingga menjadi mindore welvaart yaitu kemerosotan kemakmuran. Meski kemudian ada perubahan akibat desakan kaum liberalis sehingga dilepasnya tanam paksa dan jatuhnya  perkebunan kepada para pertikelir tidak membuat rakyat lega. Pembukaan tembang timah, pembukaan perkebunan di sumatra dan penghisapan minyak bumi menjadi kontestasi baru para kapitalis dan kesengsaraan pribumi.


Latar Belakang Leluhur
melewatkan pembahasan mengenai leluhur kartini maka akan membuat pembahasan kian buram sehingga kemudian menimbulkan distorsi dalam memahami perjuangan kartini. Pembahasan mengenai lelur Kartini akan dimulai dari seorang yang revolusioner dizamannya, Pangeran Ario Tjondronegoro. Seorang bupati yang ikut menikmati akibat dari cultuurstelsel. Seperti yang telah dipaparkan di atas yang telah meningkatkan beban bagi masyarakat. Sebut saja di grobkan  akibat bencana kelaparan telah menewaskan 216.000 orang sehingga populasi didaerah tersebut menjadi 120.000 orang, atas alasan inilah leluhur kartini diangkat menjadi bupati. Lain dari itu alasan penggangkatan Pangeran Ario Tjondronegoro ini akibat dari prestasi ketika ia menjabat sebagai bupati Kudus pada umur 25 tahun.

Melihat dari posisi yang diduduki Pangeran Ario Tjondronegoro tentu ada pihak-pihak yang bertanya sikap serta langkah apa yang diambil ketika kebijakan cultuurstelsel diberlakukan. Tentu hal tersebut akan menilbulkan spekulasi dibeberapa pihak, namun yang tidak dibanarkan apabila kita memposisikan sikap Pangeran Ario Tjondronegoro sama dengan bupati R.A Karta Nata Negara sebagai bupati lebak. Pangeran Ario Tjondronegoro diangkat menjadi bupati bukan hanya atas dasar sebagai pengganti ayahnya yang dipensiunkan pada 1836 namun kepintaran, pandangan yang luas serta inisiatifnya dalam menyelsaikan masalah, ini terlihat  ketika ia menangani benca kelaparan di  Demak dan Grobokan. Kedewasaan berfikir Pangeran Ario Tjondronegoro pun terlihat ketka ia melihat kelemahan dari perjuangan para patriot yang dalam hal tersebut menjadi pembeda antara pribumi dan penjajah, tidak lain adalah kemajuan ilmu pengetahuan. Kesadaran akan pentingnya  ilmu pengetahuan inilah sebagai awal dari semangat modern di kalangan pribumi, sebuah semangat yang telah melewati masa Renaisance pada abad 14, masa Rasionalisasi pada abad 17 dan masa Pencerahan abad 18.

Semangat modern inilah yang mendasarkan Pangeran Ario Tjondronegoro untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Bukan tanpa hambatan semangat tersebut untuk di wujudkan seperti tertulis dalam Geschiedenis Van De Indische Archipel bahwa hingga tahun 1848 pendidikan untuk pribumu belum lagi ada. Hingga pada 1861 Pangeran Ario Tjondronegoro menemukan sebuah inisiatif untuk guru pribadi yang di datangkan untuk mengajar dirumah atau disebut Geuverneur yang bernama C.S Van Kesteren. Tak dapat di pungkiri kecerdasar Pangen Ario Tjondronegoro menurun kepada putra-putranya yang dibuktikan dengan penghargaan dengan diangkat sebagia bupati.

Enam belas tahun menjadi bupati demak Pangeran Ario Tjondronegoro meninggal pada tahun 1866. sebelum meninggal Pangeran Ario Tjondronegoro memberikan wejangan kepada putra-putranya “anak-anak tanpa pengajaran kelak tuan-tuan tidak akan merasai kebahagiaan, tanpa pengajaran tuan-tuan akan makin memundurkan keturunan kita; ingat-ingat kata-kataku ini”.

Putra Pangeran Ario Tjondronegoro yaitu Pangeran Ario Hadiningrat pada tahun 1971 ia pernah menulis nota berjudul :”Sebab-sebab kemunduran Prestise Amtenar Pribumi Serta Bagaimana Jalan Untuk Meningkatkannya Kembali”.Beberapa bagian nota tersebut pernah diterbitkan oleh Tijdscbrift v/h Binnenlandch Jilid XVII, 1899.

Paman kartini yang lain  adalah Raden Mas Adipati Ario Tjondronegoro, bupati Kudus kemudian Brebes. Pada tahun 1865 ia menerbitkan buku tentang Kesalahan-kesalahan dalam mengarang dalam bahasa jawa tujuan dari penerbitan buku tersebut adalah untuk meningkatkan kesastraan jawa. Kemudian Raden Mas Adipati Ario Tjondronegoro pun pernah menterjemahkan  karangan buyutnya Tumenggung Pusponegoro yaitu seorang bupati Gresik tantang Gnomon atau petunjuk matari guna menghitung dan mengetahui bermulanya musim.


Kemudian Ayah Kartini, Raden Mas Adipati Sosroningrat bupati jepara. Juga pernah menulis dalam bahasa belanda. Salah satu tulisannya adalah note protes kepada alamat pemerintah hindia belanda atas diskriminasi pendidikan.



Sumber Bacaan
Telah di uraikan diatas terkait leluhur kartini sehingga poin tersebut memperkuat fakta pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan dan sebagai kunci pembeda antara kamu pribumi dan penjajah. Hal inipun termasuk ayah kartini R.M.A Sosroningrat seorang dari 4 bupati jawa dan madura yang dapat berbicara bahasa belanda pada 1902; P.A. Achmad Djajaningrat (Bupati Serang), R.M. Tumenggung Kusumo Utoyo (Bupati Ngawi, kemudian Jepara), P.A. Hadiningrat (Bupati Demak, paman Kartini) dan R.M.A Sosroningrat (Bupati Jepara, Ayah Kartini). Kematangan dalam berfikir ayah Kartini tersebut pun diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk Kartini meskipun hal tersebut menentang adat feodal di negerinya sebagi penghianatan sebab perempuan harus keluar rumah untuk belajar.

Meskipun hanya berbekal lulusan sekolah rendahan belanda hal tersebut akibat dari larangan ayahnya yang begitu ia cinta untuk melanjutkan belajar di HBS. Meskipun demikian rasa empati terhadap pribumi dan pandangannya terhadap ilmu pengetahuan tidaklah kurang kadarnya. Ini didapatkannya dari  buku-buku barat, majalah, koran yang tentu membuat para pembacanya tidak peduli terhadap perbedaan kelas baik seorang feodal tinggi maupun rakyat jelata. Namun pengenalan serta kepedulian kartini terhadap pribumi pun didapat dari bacaan lokal seperti multatuli maupun buku-buku jawa seperti Wulangreb yang didapat dari perpustakaan nenek moyangnya sendiri.






Pimpinan Redaksi Harian Rakyat



Max Tollenaar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel