Tantangan dan Harapan UMKM Sebagai Tulang Punggung Perekonomian


Awal  Untuk Pesimisme

Tahun 2020 yang juga ditandai pergantian shioyaitu Tikus Logam dimana pada tahun sebelumnya adalah Babi Tanah yang didasarkan ramalan astrologi kalender China kuno dapat dikatakan sebuah pesimisme awal untuk tahun tersebut. Sebagaimana dikatan Yulius Fang pada kabar berita online CNN, ciri khas dari shio Tikus Logam adalah perpaduan antara elemen air kecil dan logam besar. Elemen air kecil di ibaratkan embun, kebut dan hujan gerimis memiliki sifat panik, khawatir serta takut, sedangkan elemen logam besar di ibarakan pedang dan kapak memiliki sifat keras, kaku dan tajam. Sehingga berdasarkan pemaparan Yulius Fang, pada tahun 2020 ini baik dalam bidang sosial, politik dan ekonomi akan ada sebuah kekacauan atau ketidak stabilan. Terlepas dari persepsi setiap individu yang memiliki latar belakang berbeda  (agama, suku atau referensi bacaan) perkiraan tersebut bersesuaian dengan fakta yang terjadi pada tahun 2020 diantaranya seperti pembunuhan Jendral Qasem Soleimani oleh Amerika Serikat yang saat itu di isukan akan terjadinya perang dunia ke-3, kebakaran hutan di Australia, banjir di beberapa kota di Indonesia hingga Virus Corona sampai saat ini.

Dalam bidang ekonomi sendiri beberapa pihak peneliti juga telah menunjukan pesimismenya untuk proyeksi tahun 2020. Namun dari beragam proyeksi untuk 2020 tersebut belum dimasukannya variabel dampak Virus Corona sebab hal tersebut diluar dari perkiraan sehingga secara kasar dapat dikatan bahwa tingkat pesimisme tersebut tidak terlalu rendah. Beberapa alasan atau latar belakang dari lemahnya proyeksi untuk tahun 2020 diantaranya kinerja ekspor Indonesia yang relatif lemah sebab bergantung pada komoditi mentah, kelapa sawit, batu bara dan masih lemahnya pada sektor manufaktur. Fakta tersebut selanjutnya diperparah oleh kondisi perang dagang, kekhawatiran akan resesi sehingga akan memperlambat perdagangan Indonesia.

Tabel 1. Komoditi Utama Ekpor Indonesia (Tahun 2018)

No

Komoditi

2016 ($)

2017 ($)

2018 ($)

1

Batubara

11.059.847,07

13.814.895,77

14.074.125,64

2

Minyak kelapa sawit

6.532.251,35

10.481.885,36

12.951.023,35

3

Gas Alam

6.365.838,40

7.380.176,55

6.959.159,78

4

Batubara Bitumen

5.196.717.18

6.185.173,07

6.563.144,53

5

Minyak Bumi

5.146.437.14

5.237.638,56

5.120.474,24

Sumber: Word Bank

Pada penelaahan lebih lanjut mengenai latar belakang atau alasan lemahnya proyeksi ekonomi Indonesia untuk tahun 2020 adalah melemahnya pertumbuhan output empat negara sistemik yaitu Amerika Serikat, China, Kawasan Euro dan Jepang. Melemahnya output negara sistemik tersebut juga berasal dari adanya hambatan perdagangan, ketidak pastian geopolitik serta faktor-faktor khusus pada setiap negara tersebut. Amerika Serikat sendiri memberikan sinyal resesi dari kurva imbal hasil terbalik, sebuah kondisi dimana tingkat pengembalian suku bunga jangka pendek melampaui tingkat pengembalian obligasi jangka panjang. Pada sektor manufaktur sendiri empat negara sistemik tersebut mengalami pelemahan, pada wilayah Euro melemahnya sektor manufaktur tersebut sebagai akibat dari melemahnya perdagangan dunia, hal serupa pun terjadi pada jepang yang kemudian diperparah kebijakan moneter yang terbatas serta komposisi demografi yang menua. Sementara China peleman tersebut diakibatkan intervensi dari perang dagang dengan Amerika Serikat.

Tabel 2. Perkiraan 2020

Indikator

Tahun 2020

PDB

5,0-5,2%

Inflasi

3,3-3,6%

Pertumbuhan Kredit

10-12%

BI Repo Rate

4,75%

CAD

2,5-3,0%

IDR/USD

14.000-14.4000

Sumber: Economic Outlook FEB UI


Corona Terhadap Perekonomian Domestik

Ketika memperhitungkan dampak Virus Corona terhadap perekonomian Indonesia akumulasi tersebut harus juga memperhitungkan kontraksi dari luar khususnya China sebab Indonesia menganut sistem perekonomian terbuka. Seperti yang banyak pihak ketahui mengenai gambaran makro ekonomi dunia bahwa China merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Berdasarkan data yang dipublikasikan PBB, PDB (Produk Domestik Bruto) China  pada tahun 2018 mencapai $13.61 Triliun atau setara 15,86% PDB dunia. Kemudian secara rata-rata pertumbuhan ekonomi ekonomi China sebesar 6,6% berdasarkan PDB harga konstan, tingkat pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan PDB dunia yang hanya 3,3%.  Kemudian berdasarkan data IMF (International Monetary Fund) kontribusi perekonomian China mencapai 21,74% yang jauh lebih tinggi dari Amerika Serikat maupun Wilayah Euro. Sehingga ketika perekonomian China melambat akibat Virus Corona kemungkinan mengirim gelombang ke seluruh ekonomi global.

                                   Gambar 1. Indek PMI China 

Berdasarkan data terbaru dari China menunjukan penurunan Output secara substansial. Pada gambar 1 mengenai Indeks Pembelian Manajer (PMI) pada bulan Februari mengalami penurunan sebesar 22 poin. Indeks ini sangat berkorelasi dengan ekspor, dan penurunan seperti itu menyiratkan pengurangan ekspor sekitar 2 persen secara tahunan. Dengan kata lain, penurunan yang diamati pada penyebaran Februari sepanjang tahun ini setara dengan -2 persen dari pasokan barang setengah jadi. Setiap gangguan signifikan dalam pasokan China di sektor-sektor ini dianggap secara substansial mempengaruhi produsen di seluruh dunia. Memang, banyak perusahaan di seluruh dunia takut bahwa langkah-langkah yang diberlakukan untuk mengandung COVID-19 (yaitu pembatasan kegiatan ekonomi dan pergerakan orang), dapat menghambat pasokan bagian-bagian penting dari produsen Cina, sehingga mempengaruhi output mereka sendiri.

 

Berdasarkan data mengenai transaksi ekspor, pasar utama Indonesia adalah China terutama bahan mentah. Seperti diterangkan diatas sektor manufaktur China telah mengalami penurunan akibat dari Virus Corna yang kemudian mempengaruhi output negara-negara pemasoknya termasuk Indonesia. BPS mencatat ekspor ke China menurun sebesar 12,07% pada januari 2020 dimana penurunan terhadap ekspor migas yang cukup tajam sebesar 41%.


Tabel 3. Mitra Ekspor Indonesia

5 Mitra Ekpor Indonesia

2016

2017

2018

Negara

Nilai (US $ Mil)

Negara

Nilai (US $ Mil)

Negara

Nilai (US $ Mil)

China

16.786

China

23.094

China

27.127

Amerika Serikat

16.171

Amerika Serikat

17.810

Amerika Serikat

19.408

Jepang

16.102

Jepang

17.791

Jepang

18.472

Singapura

11.246

India

14.084

India

13.726

India

10.094

Singapura

12.767

Singapura

12.922

Sumber:World Integrated Trade Solution


Selanjutnya sektor yang juga terdampak adalah pariwisata. Secara global berdasarkan penelitian pariwisata Outbond China mengungkapkan bahwa ada 6,3 juta wisatawan tiongkok melakukan perjalanan luar negeri. Di Indonesia sendiri proporsi turis asal China mencapai 13% atau terbesar kedua setelah wisatawan asal Malaysia. Namun akibat dari Virus Corona hingga Februari wisatwan mengalami penurunan hingga 30,42%, dari jumlah tersebut wisatawan asal China mengalami penurunan hingga 94,11%. Mengenai dampak bagi perkonomian Indonesia secara spesifik diantara dapat dilihat pada jurnal yang telah diterbitkan Universitas Kristes Setya Wacana, diantaranya yaitu:

 

  1. Ø  Jumlah pekerja yang di PHK dan dirumahkan mencapai 1,5 juta pekerja. Dari jumlah tersebut 90%d dirumahkan dan 10% di PHK, jumlah tersebut berasal dari 1,24 juta pekerja formal dam 265 pekerja Informal.
  2. Ø  Indek PMI manufacturing  Indonesia mengalami kontraksi sehingga menjadi 45,3 pada Maret 2020. Sedangkan pada Agustus tahun sebelumnya berada dikisaran 49. Indeks tersebut menggambarkan kinerja industri pengelolaan.
  3. Ø  Terdapat 12.703 penerbangan di 15 bandara yang dibatalkan antara Januari-Maret 2020. Diantaranya 11.680 penerbangan domesti dan 1.023 penerbangan internasional.
  4. Ø  Penurunan okupasi/penempatan pada 6 ribu hotel yang turun hingga 50%.


Tulang Punggung Yang Terintervensi

Indonesia yang didominasi oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) telah lama menjadi tulang punggung perekonomian juga turut terkenda dampak yang serius. Berdasarkan data Kementrian Koperasi dan UKM terkait profil UMKM pada 2018 terdapat 120.9 juta pekerja yang tersebar pada 64.199.606 usaha.

Tabel 4. Profil UMKM pada 2018

Klasifikasi

Karakteristik

Jumlah Usaha

Tenaga Kerja (120,9 Juta Orang)

Kontribusi PDB (14.038 Triliun)

Aset

Omset

Besar

>Rp 10 Miliar

> Rp50 Miliar

5.550

3,00%

38,93%

Menengah

>Rp 550 Juta-10  Miliar

>Rp 2,5 Miliar-50 Miliar

60.702

3,13%

13,70%

Kecil

>Rp 50-500 Juta

>Rp 300 Juta-2,5 Miliar

783.132

4,48%

9,60%

Mikro

Maksimum Rp 50 Juta

Maksimum Rp 300 Juta

63.350.222

89,4%

37,77%

Sumber: Kementrian Koperasi dan UKM

Dari jumlah yang besar tersebut terdapat 37.000 UMKM yang terdampak serius dari Virus Corona. Sebagian besar permasalahan UMKM tersebut yaitu melemahnya permintaan/daya beli, permasalahan pembiayaan dan lainnya. Secara sederhana permasalahan tersebut merupakan imbas dari hilangnya pekerjaan (PHK-Dirumahkan) atau berkurangnya disposible incomemasyarakat sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat menurun. Lebih spesifik mengenai permasalahan yang dihadapi UMKM dapat dilihat pada gambar 2.


Gambar 2. Permasalahan UMKM

Sumber: Kementrian Koperasi dan UMKM (2020)


Pemulihan dan Penguatan UMKM

Melihat kondisi Saat ini yang kian memburuk pemerintah telah mengangarkan biaya yang cukup besar untuk penanganan Covid 19 yang tersebara bidang kesehatan, perlindungan sosial, insentif usaha, UMKM, biaya korporasi serta sektoral dan pemba, total dari anggaran tersebut yaitu Rp 669,70 Triliun.

Tabel 5. Program dan Biaya Penanganan Covid-19

Biaya Penanganan Covid-19 (699,70 Triliun)

Kesehatan (87,55 T)

Perlindungan Sosila (203,90 T)

Insentif Usaha (179,48 T)

Belanja penanganan Covid-19

Rp 65,80T

PKH

Rp 37,40T

Cadangan Perluasan

Rp 58,87T

Insentif tenaga Medis

Rp 5,90T

Sembako

Rp 43,60T

PPh 21 DTP

Rp 39,66T

Santunan Kematian

Rp0,30T

Bansos Jabodetabek

Rp 6,80T

Pembebasan PPh 22 Impor

Rp 14,75 T

Bantuan Iuran JKN

Rp 3,00T

Bansos Non-Jabodetabek

Rp 32,40T

Pengeluaran Angsuran PPh 25

Rp 14,40T

Gugus Tugas Covid-19

Rp 3,50 T

Pra Kerja

Rp20,00T

Pengembalian Pendahuluan PPN

Rp 5,80T

Insentif Perpajakan Kesehatan

Rp 9,05T

Diskon Listrik

Rp 6,90T

Stimulus Lainnya

Rp 26,00T

Logistik

Rp 25,00T

BLT Dana Desa

Rp 31,80T

UMKM (Rp 123,46T)

Biaya Korporasi (Rp 37,07 T)

Sektoral Dan Pemda (Rp 38,24T)

Subsidi Bunga

Rp 35,28 T

Penempatan Dana Restru Padat Karya

Rp 3,42T

Program Padat Karya

Rp 18,44 T

Penempatan Dana Restru

Rp 78,78 T

Belanja IJP Padat Karya

Rp 5,00T

Insentif Perumahan

1,30T

Penjaminan Modal Kerja

Rp 1,00T

Penjaminan Modal Kerja

Rp 1,00T

Pariwisata

Rp 3,80T

PPh Final UMKM

Rp 2,40T

PMN

Rp 8,00T

DID Pemulihan Ekonomi

Rp 5,00T

Pembiayaan Investasi Koperasi

Rp 1,00T

Talangan Modal Kerja

Rp 19,65T

Cadangan DAK Fisik

Rp 8,70 T

Fasilitas Pinjaman Daerah

Rp 1,00T

 Tanpa mengurangi kelebihan dan komprehensifnya kebijakan serta strategi yang telah disusun pemerintah nampaknya perlu ada penekanan terhadap beberapa bagian guna lebih memperkuata serta mempercepat pemulihan UMKM. Sebab saat ini besar-kecilnya skala usaha atau kategori-kategori lainnya tidak cukup relevan dalam menentukan besar kecilya kontribusi bagi perekonomian, karna kokohnya usaha tersebut bergantung pada proses dinamika di pasar. Beberapa hal diantaranya yang perlu diperhatikan dan upayanya yaitu:

 

Pertama, bila kita melihat tenaga kerja secara umum dapat dikelompokan menjadi: (1) berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain; (2) berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga; (3) berusaha dengan buruh tetap; (4) buruh/karyawan; (5) pekerja keluarga. Dengan pengelompokan tersebut kategori 3 dan 4 sebagai tenaga kerja di sektor formal, sedangkan kategori 1, 2 dan 5 sebagai tenaga kerja di sektor informal. Dalam data Word Developmen Report peran dengan tenaga kerja kategori 4 kian meningkat. Dengan demikian strategi jangka panjang adalah dengan membuka seluas-luasnya porsi bagi pekerja kategori 4.

 

Kedua, Penguasaan Teknologi. Robert Solow menyatakan salah satu faktor yang memperngaruhi output atau pembangunan ekonomi adalah Teknologi. Pentingya teknologi tersebut tidak dapat dipisahkan oleh Sumber Daya Manusia selaku pengguna, perancang dan pengembang teknologi tersebut. Sehingga  mempersiapkan SDM tersebut tidak boleh berhenti, karena kegagalan dalam mempersiapkan SDM dapat mengakibatkan kegagalan pemanfaatan Teknologi.

 

Adapt (Menyesuaikan), dalam tahap ini pemerintah atau instansi terkait memberikan pelatihan atau menjadi media untuk sumber daya manusia dalam tahap pengenalan atau penyesuaian terhadap teknologi. Tahap ini dapat dilakukan dengan cara :

 

Magang, SDM dapat memahami dan menguasai suatu teknologi dan sistem yang telah diterapkan secara spesifik di perusahaan atau dunia kerja.

Workshop, SDM dapat mengalami dan belajar untuk memecahkan kasus-kasus khusus yang dikumpulkan oleh para mentor berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh selama mengoperasikan sistem.

Kursus, SDM dapat mempelajari secara bertahap sistem yang digunakan di perusahaan-perusahaan secara umum dan mencoba memecahkan simulasi kasuskasus yang kemungkinan banyak terjadi di lapangan.

Adopt (Mengambil atau Memanfaatkan), pada tahap ini adalah realisasi dari hasil yang telah diperoleh pada tahap pertama. Realisasi atau implementasi dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi \ dalam strategi bisnis dan jaringan kerjasama perusahaan meliputi rekanan, penyedia, pelanggan, dan pihak lainnya. Atau dapat dengan menerapkan teknologi ke dalam sistem manufaktur/ produksi yang ada di perusahaan sehingga dapat bersifat fleksibel dan modular. 

Innovation (Inovasi), pada tahap ini pemanfaatan kemampuan Sumber daya Manusia untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan dan sesuai dengan keadaan zaman atau satu langkah lebih maju sehingga dapat menghasilkan keumnggulan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel