#Anak Desa, Kerja dan Realita


Sejak telah mengenal kata pengeluaran dan keinginan yang merupan fitra dalam diri sebagai manusia tak punya telah terpatri dalam diri anak itu untuk tidak menyusahkan pihak-pihak yang berada dilingkaran sekitaranya lebih khusus orang tua yang ia cintai. Termasuk dalam hal tersebut adalah mencari uang yang telah lama di yakininya. Semangat dalam bekerja inipun bertambah ketika orang tua membelikan perlengkapan untuknya bekerja, jangan salah akan hal demikian bukan bermaksud agar anak tersebut banyak mendapat uang dalam bekerja namun lebih ke esensi melindungi dan memudahkan anak tersebut, terlihat tak ada beda namun tentu saja orang tua yang menyayangi anaknya lebih menyimpan banyak tafsir serta alasan dibaliknya.

Luntur semangat anak itu berdiri sembari menggaruk kepalanya bukan bermasud menghilangkan gatal namun lebih menunjukan sifat kebingungan tatkala ia berdiri dipematang tebu dan melihat keadaan. Sebuah pekerjaan mudah secara teori : “setiap orang membawa 4 baris tebu yang kemudian ditebang dan dibersihkan dari daun yang masih hijau maupun yang telah kering. Setiap tebu yang ditebang dikumpulkan/ diikat dimana satu ikat tebu berisi 25-30 tebu atau minimal mencapai berat 25kg. Tak mahal satu ikat tersebut hanya dinilai 1000 rupiah.” Ekspektasi tersebut kian memancing kata ”Mudah” dari lisan bilamana kita membayangkan tebu-tebu yang akan ditebang/panen berdiri lurus.

Tua-muda, laki-perempuan menyatu dalam kelompok “penebang” yang berfokus mencari rupiah. Tak banyak yang ditargetkan anak itu untuk setiap harinya hanya 50.000 rupiah namun ia harus terpaksa mengalah dengan panas terik matahari yang menyengat, rasa haus yang memburu untuk segera meneguk air, dan keadaan tebu yang melintang bahkan melingkat sehingga hanya 25-30 ikat saja setiap harinya yang berhasil ia dapat.

Mengasihani diri dan orang tua yang harus terjebak dalam proses mencari uang sesulit ini atau bahkan masyarakat desanya yang mayoritas seprofesi terkadang menuntunnya kepada egoisme atau pembrontokan jiwa. Namun sejak lama telah ia yakini pula “Bahwa berharap keadilan kepada orang lain adalah Nisbi, hanya tuhan pemberi keadilan absolut dan perjuangan diri yang menuntu kepada keadilan relatif”

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel