Kitab Zakat: Tidak Mengeluarkan Zakat Namun Meyakini Wajibnya Zakat.




Kitab Zakat: Tidak Mengeluarkan Zakat Namun Meyakini Wajibnya Zakat.

            Bila enggan mengeluarkan zakat namun meyakini  wajibnya zakat, sementara imam (Pemimpin) mampu untuk mengambilnya maka imam mengambilnya dan memberinya  sanksi, namun tidak mengambil lebih dari zakat yang semestinya ia keluarkan. Demikian menurut pendapat mayoritas ahli ilmu di antaranya Abu Hanifah, Malik serta Asy-Syafi’i beserta para sahibnya. Begitu pula bila curang (dalam penghitungan) hartanya dan menyembunyikannya agar tidak dipungut zakatnya oleh imam. Ishak bin Rahawaih dan Abu Bakar Abdul Aziz berkata, “imam mengambilnya dan separuh hartanya. Hal ini berdasarkan riwayat Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi SAW beliau bersabda:

dalam setiap unta yang digembalakan (yang mencari makan sendiri), pada setiap empat puluh ekor, zakatnya seekor bintu labun[1](unta betina berumur dua tahun memasuki tahun ketiga) dengan tidak memisah-misahkan penghitungannya. Barang siapa menyerahkannya karena mengharapkan pahala, maka baginya pahala. Barang siapa menolak (menyerahkannya) maka aku akan mengambilnya dan separuh hartanya. Ini sebagai pelaksanaan sesuatu keinginan dari keinginan Tuhan kami yang maha suci lagi maha tinggi. Tidak halal sedikitpun dari itu (harta zakat) bagi keluarga Muhammad”[2]

Ketika hadits ini ditanyakan kepada Ahmad,ia berkata, “aku tidak tahu apa maksudnya”, ketika ditanya tentang isnadnya , ia menjawab, “menurutku isnadnya bagus.” Hadits ini diriwayatkan juga  oleh Abu Daud dan An-Nasa’i didalam sunan mereka.

Alasan pendapat pertama (mengambil zakatnya dan memberi sanksi) adalah sabda  Nabi SAW, “tidak ada hak pada harta selain zakat[3]. Juga karena penolakan penunaian zakat pernah terjadi pada masa  Abu Bakar RA yang dikarenakan meninggalnya Rasullullah SAW, dan saat itu para sahabat RA masih banyak. Namun tidak seorangpun dari mereka yang menukil adanya tambahan, dan tidak ada juga yang melontarkan perkataan seperti itu.

Para ahli ilmu berbeda pendapat dengan udzur pada khabar ini, ada yang mengatakan bahwa pada awal masa Islam sanksi-sanksi berupa harta, kemudian dihapus dengan hadits yang kami riwayatkan tadi.

Al Khaththabi menceritakan dari Ibrahim , Al Harbi, bahwa yang diambil adalah ternak yang umurnya telah di tetapkan dari harta yang bagus tanpa disertai tambahan., baik umur (yakni diambil dari yang umurnya lebih tua dari yang semestinya) maupun jumlah, hanya saja dipilihkan dari harta yang bagus yang melebihi nilai zakatnya sekitar setengah dari niali yang semestinya. Jadi yang wajib dikeluarkan, yaitu tambahan setelah dari nilainya. Wallahu a’lam.

Adapun bila yang menolak mengeluarkan zakat itu diluar janmgkauan imam (pemimpin), maka diperingati, karena para sahabat RA juga memerangi orang-orang yang menolak mengeluarkan zakat. Abu Bakar As-Shiddiq RA berkata “seandainya mereka enggan menyerahkan zakat tali pengekang unta yang kepadaku dulu biasa mereka serehkan kepada Rasullullah SAW, niscaya aku memerangi mereka karena hal itu.” Bila berhasil menundukannya beserta hartanya, maka zakat itu diambil tanpa tambahan dan keluarganya tidak ditawan, karena pelanggaran ini bukan dilakukan oleh mereka (bukan dari keluarga yang bersangkutan). Orang yang menolak zakat  itu sendiri juga tidak ditawan, maka apalagi keluarganya. Bila berhasil menundukannya tanpa hartanya, maka orang tersebut diseru untuk memenuhinya dan diperintahkan bertobat dalam tiga hari. Bila ia bertobat dan melaksanakannya maka urusannya selesai, namun bila tidak maka dibunuh dan tidak dihukumi kafir. Ada riwayat dari Ahmad yang menunjukan bahwa orang tersebut dihukumu kafir karena diperangi akibat penolakan tersebut.

Al Maimuni mariwayatkan darinya, “bila mereka menolak menyerahkan zakat sebagaimana pada masa Abu Bakar yang kemudian diperangi, maka (bila mati) mereka tidak mewariskan dan tidak dishalatkan”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “ orang yang tidak memenuhi zakat bukanlah orang muslim”[4]

Landasannya adalah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Abu Bakar RA memerangi mereka (orang yang menolak mengeluarkan zakat) dan perangpun berkecambuk, mereka berkata “kami akan menunaikannya”. Namun Abu Bakar menjawab, “aku tidak akan menerimanya hingga kalian bersaksi bahwa orang-orang kami yang gugur berada di surga, sedangkan orang-orang kalian yang gugur berada di neraka”. Tidak ada nukilan yang menyebutkan adanya pengingkaran tentang hal ini dari seorang sahabat pun, maka hal ini menunjukan kekufuran mereka.

Demikian ini, karena pada mulanya, Umar dan sahabat lainnya menolak memerangi mereka. Seandainya mereka meyakini kekufuranya orang-orang itu  (orang yang menolak mengeluarkan zakat).  Maka pasti mereka tidak akan menolak memerangi.  Namun kemudian (setelah Abu Bakar memberi alasan), mereka sepakat memerangi. Kekfuran itu masih ada pada mereka yang mati berada di neraka). Juga, karena zakat merupakan salah satu cabang agama yang bila ditinggalkan tidak otomatis menjadikan pelakunya kafir, sebagimana halnya haji, karena orang yang meninggalkannya tidak otomatis menjadi kafir  maka tidak langsung diperangi sebagaimana pemberontakan.

Adapun orang-orang yang dikatakan oleh Abu Bakar (bahwa mereka tidak ada di neraka), kemungkinan mereka mengingkari kwajiban pajak, karena telah dinukil dari mereka bahwa mereka berkata “kami melaksanakannya kepada Rasullullah SAW karena shalatnya adalah penanteram bagi kami. Oleh karena itu, kami tidak menunaikannya  kepadanya.” Ini menunjukan bahwa mereka mengingkari  kewajiban penunaian zakat kepada Abu Bakar RA.

Juga karena ini merupakan  kasus tersendiri, maka tidak bisa dipastikan dari orang-orang yang dikatakan oleh Abu Bakar itu, karena kemungkinan kelompok itu memang murtad, atau mereka mengingkari kewajiban zakat, dan mungkin juga ada alasan lain, padahal tidak boleh menentukan hukum dengan sesuatu yang masih diperdebatkan. Kemungkinan juga Abu Bakar mengatakan itu (yakni mereka yang mati berada di neraka) karena mereka melakukan dosa-dosa besar dan mati tanpa bertobat, sehingga menghukumi mereka  dengan neraka sudah sangat jelas, sebagaimana sudah jelasnya menghukumi surga bagi kaum mujahidin yang gugur. Namun semua urusannya kembali kepada Allah Ta’ala.

Kendati demikian, mereka tidak dihukumi kekal (di neraka), karena tidak semua yang dihukumi dineraka akan kekal di neraka, sebab Nabi SAW telah mengabarkan bahwa diantara umatnya ada kaum yang akan masuk neraka, tetapi kemudian Allah Ta’ala mengeluarkan mereka dari neraka lalu memasukan mereka ke dalam surga.[5]



[1] Disebut bintu labun karena induknya bersusu dengan melahirkan anaknya.

[2] HR. Abu Daud (2/ ح 1575), An- Nasa’i (5/ ح 2443), Al Hakim (1/397, 398), dan Ahmad (5/2,4), Al Albani berkata dalam shahih Al Jami’ (4265) “Hasan”.

 

[3] HR. Ibnu Majah (1/ ح 1789) Al Albani menyebutkannya didalam Dha’ if Al Jami’ (4912 ) dan ia berkata “Dha’ if”.

 

[4] HR. Ibnu Abi Syaibah didalam Al Mushannaf (3/114)

[5] HR. Al Bukhari seperti di dalam Ash-Shahih (8/145), Muslim (1/Imam/304/172), dan Ahmad (3/17, 20, 475)






Sumber :

Kitab Fiqih Al Mughni Jilid 3, Ibnu Qudamah, Bagian Kitab Zakat Halaman 433.

Kitab Al-Mughni berisi fikih perbandingan mazhab atau dikenal dengan syarah matan Mukhtashar Al-Khiraqi. Beliau sebut Al-Mughni sebagai salah satu ensiklopedi fikih terbesar yang memaparkan perbedaan pendapat tingkat tinggi. Sedangkan kitab (buku) yang ada di hadapan pembaca adalah Al-Muqni’, yakni sebuah uraian fikih yang mengacu kepada mazhab Hanbali. Oleh karenanya, buku beliau ini menjadi rujukan bagi para ulama mazhab Hanbali dari masa ke masa.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel