Kitab Zakat: Zakat Untuk Lima Sampai Dua Puluh Ekor Unta



Abu Bakar Al Qasim Al Kharqi Berkata, “bila memiliki lima ekor unta dan digembalakan lebih dari satu tahun, maka zakatnya satu ekor kambing. Pada jumlah sepuluh ekor unta zakatnya dua ekor kambing, pada lima belas ekor, zakatnya tiga ekor kambing, dan pada dua puluh ekor unta, zakatnya empat ekor kambing.

            Ini semua telah disepakati oleh umat dan telah dipastikan oleh Rasullullah SAW, sebagaimana yang telah kami dan yang lain riwayatkan. Kecuali ungkapan, “lalu digembalakan lebih dari setahun,” menurut madzhab imam kami dan madzhab Abu Hanifah, bila gembalanya lebih dari setahun maka ada zakatnya.

            Asy-Syafi’i berkata, “ bila tidak digembalakan sepanjang tahun maka tidak ada gembalanya, karena penggembalaan merupakan syarat zakat, sebagaimana halnya status kepemilikan dan pencapaian nishab. Pemberian makan menggugurkan  (kewajiban zakat), sementara penggembalaan mewajibkannya. Bila keduanya berpadu, maka pengguguran lebih unggul, sebagaimana bila memiliki jumlah yang telah mencapai nisbah, namun sebagiannya digembalakan dan sebagiannya diberi makan secara khusus.”

            Menurut kami: keumuman nash menunjukan kewajiban zakat kepada ternak yang telah mencapai nishab, dan sebutan ‘digembalakan’ tidak gugur hanya karena pemberian makan yang sedikit, sehingga tidak menghalanginya untuk tercakup dalam hadits tersebut hal ini juga tidak menghalangi  haknya untuk keperluan dimakan sendiri, sehingga menyerupai ternak yang digembalakan sepanjang tahun.

            Juga karena pemberian makan yang sedikit tidak mungkin dirincikan, namun mengganggapnya berperan sepanjang tahun akan menggugurkan zakat secara keseluruhan, apalagi bila dikemukakan kepada orang yang menghindari zakat, yaitu apabila ia ingin menggugurkan zakat, maka mudah saja ia menggugurkannya dalam sehari (dengan cara diberi pakan secara khusus).

            Selain itu, deskripsi ini (tidak dianggap pemberian pakan yang sedkit) berfungsi untuk menafikan pemberian pakan secara keseluruhan, namun dalam jumlah banyak tetap dianggap, sebagaimana pengairan tanaman dan buah-buahan yang tidak membebani (tidak memerlukan kotribusi banyak dari pemiliknya). Ucapan mereka, “pengembalaan merupakan syarat zakat,” kemungkinan ketiadaanya akan menghalangi zakat.

            Kami katakan : bila pemberian pakan mencapai setengah tahun atau lebih, maka menghalangi zakat, sebagimana pengairan tanaman dengan upaya khusus yang menghalangi kewajiban zakat 10%. Namun itu tidak menjadi penghalang hingga mencapai setengahnya atau lebih. Demikian juga dalam masalah yang sedang kita bahas. Kalau, pengembalaan itu kita anggap sebagai syarat zakat, maka zakat itu ada pada mayoritas tahun [yakni masanya], seperti halnya pengairan tanaman yang tidak membebani menjadi syarat pengeluaran zakat 10%-nya maka keberadaan syarat itu cukup dalam jumlah mayoritas (tidak harus pada keseluruhan).

             Hal ini berbeda bila sebagain nishab diberi pakan [yakni pada jumlah yang telah mencapai nishab itu, yang sebagian diberi pakan dan sebagian mencari pakan sendiri], karena nishab sebab wajib zakat, sehingga syarat itu wajib ada pada kesemuanya, adapun pencapaian tahun (telah berputas masanya selama satu tahun) adalah syarat kewajibannya, sehingga syarat itu boleh dianggap bila telah ada pada mayoritas ( dari satu tahun itu).

            



Sumber :

Kitab Fiqih Al Mughni Jilid 3, Ibnu Qudamah, Bagian Kitab Zakat Halaman 433.

Kitab Al-Mughni berisi fikih perbandingan mazhab atau dikenal dengan syarah matan Mukhtashar Al-Khiraqi. Beliau sebut Al-Mughni sebagai salah satu ensiklopedi fikih terbesar yang memaparkan perbedaan pendapat tingkat tinggi. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel