kitab Zakat: Zakat Untuk Unta Yang Kurang Dari Lima Ekor




Al Kahrqi  rahimahullah memulai dengan menyebutkan zakat unta, karena ini yang terpenting,  sebab unta merupakan ternak berharga dan bertubuh besar serta merupakan mayoritas harta orang-orang arab,  sehingga lebih baik mengupasnya lebih dulu (daripada yang lain).

            Tentang kewajiban mengeluarkan zakat unta, telah disepakati oleh ulama islam, dan shahih pula sunnah Nabi SAW mengenai hal ini. Diantara riwayat terbaik mengenai ini adalah hadits yang diriwayatkan  oleh Al Bukhari di dalam kitab shahih-nya[1], ia mengemukakan : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutsanna Al Anshari menyampaikan kepada kami, ia berkata: ayahku menyampaikan kepadaku , ia berkata: Tsumamah bin Abdullah  bin Anas menyampaikan kepada kami, bahwa Anas menampaikan  kepadanya bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq RA mengirim surat ini kepadanya (ketika Anas ditugaskan ke Bahrain), dan diantara isinya adalah “ini adalah kewajiban zakat yang telah diwajibkan Rasullullah SAW atas kamum muslimin dan telah diperintahkan Allah kepada Rasul-Nya SAW. Barang siapa (diantarav kaum muslimin) dimintai zakatnya berdasarkan ketentuannya maka hendaklah ia memberikannya, dan barang siapa dimintai lebih dari itu  maka hendaklah ia tidak memberikanny, yaitu : setiap dua puluh empat ekor unta atau kurang (zakatnya) adalah satu ekor domba untuk lima ekor unta. Jika sudah mencapai dua puluh lima sampai tiga puluh lima ekor, maka zakatnya adalah seekor bintu makhdah[2](unta betina berumur satu tahun dan memasuki tehun kedua). Jika mencapai tiga puluh enam dan mencapai empat puluh lima maka zakatnya adalah seekor bintu labun[3](unta betina yang memasuki tiga tahun).

            Jika mencapai sembilan puluh hingga seratus dua puluh ekor maka zakatnya dua hiqqah thuruqatul fahl[4]. Jika lebih dari seratus dua puluh ekor, maka untuk setiap empat puluh ekor zakatnya  seekor bintu labun, dan setiap lima puluh ekor zakatnya seekor hiqqah.

            Bagi orang yang hanya memilki empat ekor unta, maka tidak ada zakatnya, kecuali si pemilik meginginkan. Bila telah mencapai lima ekor zakatnya seekor domba...’’ insyaallah akan didikemukakan pada bab-babnya.

            Diriwayatkan juga oleh Abu Daud didalam kitab sunan-nya dengan tambahan “ bila telah mencapai 25 ekor maka zakatnya seekor bintu makhadh  sehingga mencapai batas-batasnya”

            Abu Daud juga meriwayatkan  dilama kitab sunan-nya dengan tambahan: “bila mencapai 25 ekor  hingga tiga puluh lima ekor maka zakatnya  seekor bintu makhadh. Bila tidak ada bintu makhadh maka dengan bintu labun   (unta jantan yang berumur dua tahun dan memasuki tahun ketiga) “ riwayat tentag ini semuanya sama sehingga mencapai sertus dua puluh ekor.

            Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Al Mundzir. Ia juga berkata “tidak benar hadits apa yang diriwayatkan dari Ali RA tentang jumlah dua puluh lima ekor, yakni yang menyebutkan darinya bahwa zakat dari dua puluh lima ekor unta adalah lima ekor kambing”.

            Ucapan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, “yang telah ditetapkan penetapan kadang juga disebut kewajiban. Contoh: “telah di tetapkan bagi wanita suatu ketetapan”. Ucapan beliau, “barang siapa dimintai lebih dari itu maka jangan lah ia memberikannya,” maksudnya adalah jangan memberikan lebih dari yang telah ditetapkan.

            Kaum muslim telah sepakat  bahwa jumlah unta yang kurang dari lima ekor tidak ada zakatnya. Sebagimana sabda nabi (dalam hadits tadi), “bagi orang yang hanya memiliki empat ekor unta, maka tidak ada zakat baginya, kecuali si pemilik menginginkan.” Beliau juga bersabda, “unta yang tidak mencapai lima ekor tidak ada zakatnya[5](HR. Muttafaq Alaih)

            As-Saaimah adalah ar-raa’iyah (yang digembalakan , yakni yang mencari makan sendiri, todak diberi makan secara khusus). Contoh kalimat dalam firman Allah ta’ala adalah:

 

هُوَ الَّذِي أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian meng­gembalakan ternak kalian.

 

 

            Ketika menyinggung tentang gembalaan, dibedakan dengan yang diberi pakan dan keperluan lainhya, karena menurut mayoritas ahli ilmu, yang demikian tidak ada zakatnya.

            Diceritakan dari malik tentang ternak unta yang mempunyai tempat minum khusus[6]dan diberikan pakan secara khusus: adalah zakatnya, berdasarkan keumuman sabda Nabi SAW, “setiap lima ekor (unta ) zakatnya satu ekor kambing.”

Ahmad berkata, “yang disediakan perlengkapannya tidak ada zakatnya. Namun orang-orang Madinah memandang adanya zakat. Tapi mereka tidak ada mempunya dasar atas ini.

            Menurut kami : sabda Nabi SAW, “pada setiap gembalaan  unta yang berjumlah empat puluh ekor maka zakatnya seekor bintu labun,”[7]yaitu yang disebut  di dalam hadits Bahz bin Hakim. Disini beliau membatasinya dengan ‘gembalaan’, maka ini menunjukan  bahwa selain itu tidak ada zakatnya. Adapun hadits yang mereka kemukakan  bersifat mutlak ( tidak ada pembatasannya), sehingga harus disingkronkan dengan yang ada batasannya, karena atribut ‘ tumbuh atau berkembang’ identik dengan zakat, sedangkan yang diberi makan maka pakannya itu menenggelamkan perkembangannya (yakni tidak berkembang sendiri akan tetapi diberi pakan). Kecuali ternak itu direncanakan akan di jual, maka zakatnya adalah zakat perdagangan.



[1]HR. Al Bukhari seperti itu di dalam Ash-Shahih (8/145), Muslim (1/imam/304/172), dan Ahmad (3/17,20, 475).

[2] Yakni unta betina yang usianya telah mencapai setahun dan usianya memasuki usia tahun kedua. Disebut bintu makhdah (anak dari ibu yang sedang mengandung) karena anak unta pada umur ini induknya mulai megandung lagi. Makhdah itu sendiri artinya rasa sakit saat melahirkan.

[3] Yakni unta betina yang usianya memasuki tahun ketiga. Disebut bintu labun (anak dari ibu yang deras susunya) karena anak unta pada umur ini biasanya adiknya sudah lahir dan induknya mulai mengeluarkan susu. Labun berasal dari kata laban yang artinya air susu.

[4] Yakni unta betina yang telah berusia tiga tahun dan memasuki tahun ke empat. Pada umur inilah ia pantas menjadi tanggungan atau penggankut barang. Hiqqah berasal dari kata haqq, yang artinya pantas. Tapi ada juga yang menafsirkannya bahwa dinamakan demikian karena unta pada umur sekian telah pantas dikawini pejantan.

[5] HR. Al Bukhari (3/1447/fath), Muslim (2/zakat/674, 675/ح 5, 6), Abu Daud (2/1558), At-Tirmidzi (3/626), Ibnu Majah (1/1734), An-Nasa’i (5/ح 2445), dan Ahmad (2/402,403)

[6] An-Nawaadhi adalah yang diberi minum. Bentuk tunggalya adalah naadhi.




Sumber :

Kitab Fiqih Al Mughni Jilid 3, Ibnu Qudamah, Bagian Kitab Zakat Halaman 439-442.

Kitab Al-Mughni berisi fikih perbandingan mazhab atau dikenal dengan syarah matan Mukhtashar Al-Khiraqi. Beliau sebut Al-Mughni sebagai salah satu ensiklopedi fikih terbesar yang memaparkan perbedaan pendapat tingkat tinggi. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel