RAPBN 2021 dan Fokus Penggunaan

 




Berdasarkan publikasi Kementerian Keuangan bahwa postur rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) tahun 2021 akan di arahkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi, mendorong reformasi struktural, mempercepat transformasi ekonomi menuju era digital, dan pemanfaatan serta antisipasi perubahan demografi.  

Seperti yang kita ketahui dengan melihat laporan ekonomi pada triwulan 1  tahun 2020, Indonesia dan negara-negara lain di dunia diguncang pandemi Covid-19 sehingga memaksa mengurangi aktivita ekonomi. Dengan akibat yang ditumbulkan pandemi Covid-19 tersebut banyak negara mengalami kontraksi seperti Tiongkok terkontraksi hingga 6,8%,  Jepang terkontraksi sebesar 3,4%, dan Amerika Serikat tetap tumbuh 0,3%, sedangkan Indonesia sendiri tertekan hanya menjadi  2,97%.

Dengan melihat pertumbuhan yang tertekan  pada angka 2,97%, tentu saja dapat kita ketahui komponen-komponen perekonomian juga tertekan dan mengalani penurunan yang cukup signifikan. Seperti pada komponen pengeluaran,  Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi sebesar 2,8 persen. Kinerja ekspor dan impor juga menurun seiring terhambatnya aktivitas perdagangan antar negara. Impor terkontraksi 2,2 persen sementara ekspor tumbuh 0,2 persen. Kemudian Dari sisi moneter sendiri, suku bunga acuan diturunkan secara bertahap dari 5,00 persen menjadi 4,50 persen sepanjang triwulan I tahun 2020.

 

Postur RAPBN 2021 dan Fokus Penggunaan.

Pada  2021, kebijakan fiskal mengangkat tema “Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Reformasi”. Kemudian RAPBN tahun 2021  ini direncanakan mencapai Rp2.747,5 triliun. Dari angka itu, 6,2% atau Rp169,7 triliun untuk Anggaran kesehatan, terutama untuk peningkatan dan pemerataan dari sisi supply serta dukungan untuk pengadaan vaksin, meningkatkan nutrisi ibu hamil dan menyusui dan balita, penanganan penyakit menular, serta akselerasi penurunan stunting. Dan 20% atau Rp549,5 triliun untuk pendidikan, anggaran tersebut difokuskan untuk meningkatkan kualitas SDM, kemampuan adaptasi teknologi, hingga peningkatan produktivitas melalui pengetahuan ekonomi era industri 4.0. Selain itu, untuk sarana/prasarana pendidikan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

 


Asumsi Indikatir Ekonomi Makro RAPBN 2021


Dari publikasi Kementrian Keuangan adapun beberapa indikator Makro yaitu, Pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2021 diperkirakan 4,5–5,5% didukung peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai penggerak utama, Inflasi akan tetap terjaga pada tingkat 3%, sementara Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp14.600 per US Dollar dan Defisit anggaran pada RAPBN 2021 direncanakan sekitar 5,5% dari PDB atau lebih rendah dari outlook 2020 sekitar 6,34% dari PDB.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel